Rabu, 14 Maret 2018

Hakikat Pembelajaran, Model Desain Instruksional, Analisis Kebutuhan dan Analisis Karakter Siswa

A. Hakikat Pembelajaran
     1. Pengertian Pembelajaran
         Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat , serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Menurut Dimyati dan Mudjiono (Ahmar, 2012: 10) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 20 dinyatakan bahwa Pembelajaran adalah Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. 
         Dapat di simpulkan bahwa pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dengan sadar untuk membantu peserta didik memperoleh ilmu dan pengetahuan baru agar  menjadi lebih baik.
         Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pebelajaran (Hamalik, 1994).

      2. Komponen pembelajaran 
          Menurut Sumiati dan Asra (Ahmar, 2012: 12)  mengelompokkan komponen-komponen pembelajaran dalam tiga kategori utama, yaitu:  (a) guru, (b) isi atau materi pembelajaran, dan (3) siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
          a) Tujuan pembelajaran
              Menurut Daryanto (Ahmar, 2009:12) tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.  Suryosubroto (Ahmar, 2012: 12-13) menegaskan bahwa tujuan pembelajaran adalah rumusan secara terperinci apa saja yang harus dikuasai oleh siswa sesudah ia melewati kegiatan pembelajaran yang bersangkutan dengan berhasil. Tujuan pembelajaran tercantum dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). RPP merupakan komponen penting dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan yang pengembangannya harus dilakukan secara profesional.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran menggambarkan sebuah rumusan yang tersusun dengan terperinci dalam subuah komponen RPP yang harus disesuaikan dengan standar kompetensi, kompotensi dasar, dan indicator pencapaian sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam proses pembelajaran.
            b) Materi pembelajaran
Harjanto (Ahmar, 2012:15) menjelaskan beberapa kriteria pemilihan materi pembelajaran yang akan dikembangka dalam sistem pembelajaran dan yang mendasari penentuan strategi pembelajaran, yaitu:
1)      Kriteria tujuan pembelajaran..
2)      Materi pembelajaran supaya terjabar.
3)      Relevan dengan kebutuhan siswa.
4)      Kesesuaian dengan kondisi masyarakat.
5)      Materi pembelajaran mengandung segi-segi etik.
6)      Materi pembelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis.
7)    Materi pembelajaran bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli, dan masyarakat.
              c) Metode pembelajaran 
           Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Belajar produk pada umumnya hanya menekankan pada segi kognitif. Sedangkan belajar proses dapat memungkinkan tercapainya tujuan belajar baik segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Oleh karena itu, metode pembelajaran pembelajaran diarahkan untuk mencapai sasaran tersebut, yaitu lebih banyak menekankan pembelajaran melalui proses. Untuk melaksanakan proses pembelajaran perlu dipikirkan metode pembelajaran yang tepat. Menurut Sumiati dan Asra (Ahmar, 2012: 18) ketepatan penggunaan metode pembelajaran tergantung pada kesesuaian metode pembelajaran materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber atau fasilitas, situasi dan kondisi dan waktu.
               d) Media Pembelajaran
Rudi Susilana dan Cepi Riyana (Amhar, 2012: 19) mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:
                   1)      Penggunaan media di kelas
                        Pada teknik ini media dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan tertentu dan penggunaannya dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas.
                   2)  Penggunaan media di luar kelas
                    Media tidak secara langsung dikendalikan oleh guru, namun digunakan oleh siswa sendiri tanpa instruksi guru atau melalui pengontrolan oleh orang tua siswa. Penggunaan media di luar kelas dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu penggunaan media tidak terprogram dan penggunaan media secara terprogram.
                e) Evaluasi Pembelajaran
                      Evaluasi merupakan salah satu komponen dalam sistem pembelajaran. Dalam hubungannya dengan pembelajaran dijelaskan oleh Harjanto (Ahmar, 2012: 21) evaluasi pembelajaran adalah penilaian atau penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik kearah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum. Evaluasi yang diberikan oleh guru mempunyai banyak kegunaan bagi siswa, guru, maupun bagi guru itu sendiri.
    Menurut Sumiati dan Asra (Ahmar, 2012:22) hasil tes yang diselenggarakan oleh guru mempunyai kegunaan bagi siswa, diantaranya:
 1)       Mengetahui apakah siswa sudah menguasai materi pembelajaran yang disajikan oleh guru.
 2)    Mengetahui bagian mana yang belum dikuasai oleh siswa, sehingga dia berusaha untuk mempelajarinya lagi sebagai upaya perbaikan.
3)   Penguatan bagi siswa yang sudah memperoleh skor tinggi dan menjadi dorongan atau motivasi untuk belajar lebih baik.
          f)  Peserta didik/siswa
     Siswa merupakan salah satu komponen inti dari pembelajaran, karena inti dari proses pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan. Siswa merupakan komponen inti dari pembelajaran, maka siswa harus memiliki disiplin belajar yang tinggi. Siswa yang memiliki disiplin belajar yang tinggi akan terbiasa untuk selalu patuh dan mempertinggi daya kendali diri, sehingga kemampuan yang sudah diperoleh siswa dapat diulang-ulang dengan hasil yang relatif sama.
          g) Pendidik/guru
            Menurut Syaiful Bahri Djamarah (Ahmar, 2012: 24-25) secara keseluruhan guru adalah figur yang menarik perhatian semua orang, entah dalam keluarga, dalam masyarakat maupun di sekolah. Guru dilihat sebagai sosok yang kharismatik, karena jasanya yang banyak mendidik umat manusia dari dulu hingga sekarang. Secara umum tugas guru adalah sebagai fasilitator, yang bertugas menciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Guru merupakan komponen utama yang sangat penting dalam prose pembelajaran karena tugas guru bukan hanya sebagai fasilitator namun ada dua tugas yang harus dikerjakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran yang efektif. Kedua tugas tersebut sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
           h) Lingkungan tempat belajar
          Lingkungan merupakan segala situasi yang ada disekitar kita. Suciati, dkk (Ahmar, 2012:25) menjelaskan bahwa lingkungan belajar adalah situasi yang ada di sekitar siswa pada saat belajar. Situasi ini dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Lingkungan terdiri dari lingkungan luar dan lingkungan dalam. Lingkungan luar diartikan sebagai gabungan faktor-faktor geografi dan sosial ekonomi yang mempengaruhi hubungan sekolah dengan masyarakatnya. Sedangkan lingkungan dalam adalah bahan pokok bangunan dan ketersediaan peralatan untuk menunaikan tugas pengajaran dan belajar. Lingkungan yang ditata dengan baik akan menciptakan kesan positif dalam diri siswa, sehingga siswa menjadi lebih senang untuk belajar dan lebih nyaman dalam belajar.

3. Pengelolaan proses pembelajaran
    Mengajar merupakan suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar mengajar. Menurut Sumiati dan Asra dalam Ahmar  (2012:26 ) peran guru dalam pembelajaran yang dapat membangkitkan aktivitas siswa setidak-tidaknya menjalankan tugas utama, berikut ini:
    a. Merencanaan pembelajaran, yang terinci dalam empat sub kemampuan yaitu perumusan tujuan pembelajaran, penetapan materi pembelajaran, penetapan kegiatan belajar mengajar, penetapan metode dan media pembelajaran, penetapan alat evaluasi.
    b. Pelaksanaan pengajaran yang termasuk di dalamnya adalah penilaian pencapaian tujuan pembelajaran.
      c. Mengevaluasi pembelajaran dimana evaluasi ini merupakan salah satu komponen pengukur derajat keberhasilan pencapaian tujuan, dan keefektifan proses pembelajaran yang dilaksanakan.
     d. Memberikan umpan balik menurut Stone dan Nielson umpan balik mempunyai fungsi untuk membantu siswa memelihara minat dan antusias siswa dalam melaksanakan tugas belajar.

B. Model Desain Pembelajaran
    Desain pembelajaran pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespon kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun.
Hakikat desain pembelajaran merupakahan desain pembelajaran disusun untuk membentu proses belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang (Gegne, 1992).
Desain pembelajaran sebagai proses rangkaian kegiatan yang bersifat linear tersebut digambarkan oleh Sambangh (2006).
1. Menentukan kebutuhan
2. Pengembangan desain untuk menjawab kebutuhan
3. Uji coba
4. Evaluasi hasil (kembali lg ke menentukan kebutuhan)
Pada konteks pembelajaran, desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yg harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan. Pendekatan yg dapat digunakan dalam desain pembelajaran adalah pendekatan sistem, yang mencakup analisis tentang perencanaan, analisis pengembangan, analisis implementasi dan analisis evaluasi. Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses itu memiliki tahapan asegera dan tahapan jangka panjang. Menurut Gagne, belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal.
1. Faktor internal adalah faktor yang berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari dalam individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat dan bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar
2. Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain pembelajaran berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan dan kondisi yg memungkinkan siswa dapat belajar.
Desain instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yg dapat dilakukan siswa untuk mempelajari suatu materi pelajaran yg di dalamnya mencakup rumusan tujuan yg harus dicapai atau hasil belajar yg diharapkan, rumusan strategi yg dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, teknik dan media yang dapat dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan. Mendesain pembelajaran harus diawali dengan studi kebutuhan, karena berkenaan dengan upaya untuk memecahkan persoalan yg berkaitan dengan proses pembelajaran siswa dalam mempelajari suatu bahan atau materi pembelajaran.
a. Kriteria desain instruksional
Desain instruksional yg baik harus memiliki beberapa kriteria diantaranya:
1) Berorientasi pada siswa
   Ketika kita mendesain pembelajaran, maka pertanyaan pertama yg harus kita ajukan adalah bagaimana desain yg kita kembangkan itu mampu membantu siswa dalam mempelajari bahan pembelajara dan memudahkan siswa belajar. Beberapa hal yg perlu dipahami tentang siswa diantaranya:
a) Kemampuan dasar
    Pemahaman kemampuan dasar yg dimiliki siswa perlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita mulai mendesain pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yg harus dicapai selamanya disesuaikan dengan kemampuan yg telah atau harus dimiliki terlebih dahulu oleh setiap siswa. Sehingga desain pembelajaran dirancang sesuai dengan potensi dan kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain desain tidak dirancang semata-mata oleh kemauan guru saja.
b) Gaya belajar
   Gaya belajar ada 3 tipe, yakni tipe auditif, tipe visual, dan tipe kinestetis. Siswa yg bertipe auditif akan dapat menangkap informasi lebih banyak melalui pendengaran. Dengan demikian maka desain pembelajaran dirancang agar siswa banyak mendengar melalui berbagai media yang dapat di dengar seperti radio, recorder, video dll.
2) Berpijak pada pendekatan sistem
    Melalui pendekatan sistem bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan karena melalui pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yg mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar itulah maka pendekatan sistem dalam desain instruksional merupakan pendekatan ideal yg dapat dilakukan oleh para desainer pembelajaran.
3) Teruji secara empiris
   Sebelum digunakan, sebuah desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai kendala yg mungkin muncul sehingga jauh sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu melalui pengkajian secara ilmiah dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk menggunakannya.

b. Hubungan perencanaan dan desain pembelajaran
  Perencanaan merupakan kegiatan menerjemahkan kurikulum sekolah ke dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Perencanaan pembelajaran dapat berupa perencanaan perhari, perminggu, persemester, pertahun sesuai dengan tujuan kurikulum yg hendak dicapai. Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa. Dengan demikian, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran adalah kurikulum yang berlaku di suatu lembaga. Sedangkan, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan suatu desain pembelajaran adalah siswa itu sendiri sebagai individu yang akan belajar dan mempelajari bahan pelajaran. Artinya ketika kita akan menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran, maka kita perlu bertanya terlebih dahulu bagaimana desain kurikulum yang ada di lembaga pendidikan. Sedangkan, kalau kita menyusun dan mengembangkan sebuah desain pembelajaran kita perlu bertanya bagaimana agar siswa dapat mempelajari suatu bahan pelajaran dengan mudah.

c. Model-model Desain Instruksional
Beberapa model desain yang dikembangkan oleh para ahli:
1) Model Kemp
  Model desain sistem instruksional yg dikembangkan oleh Kemp merupakan model yg membentuk siklus. Menurut Kemp, pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen2 yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Mengembangkan sistem instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asalkan urutan komponen tidak diubah dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yg maksimal. Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah:
a) Hasil yang ingin dicapai
b) Analisis tes mata pelajaran
c) Tujuan khusus belajar
d) Aktivitas belajar
e) Sumber belajar
f) Layanan pendukung
g) Evaluasi belajar
h) Tes awal
i) Karakteristik belajar
Kesembilan komponen itu merupakan suatu siklus yang terus-menerus direvisi setelah dievaluasi baik evaluasi sumatife maupun formatife dan diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioritas, dan berbagai kendala yang muncul.

2) Model Banathy
  Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahapan dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni:
a) Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun pengembangan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik.
b) Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat menyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c) Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
d) Merancang sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e) Mengimplementasikan dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi.
f) Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
Langkah 1 s.d 4 merupakan tahapan dalam proses perencanaan, sedangkan tahap 5 s.d 6 adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dirumuskan.

3) Model Dick and Cery
   Menurut model ini sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Manakala telah dirumuskan tes dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Langkah terakhir dari desain ini adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatife dan evaluasi sumative.
Evaluasi formatife berfungsi untuk menilai efektivitas program dan evaluasi sumatife berugnsi untuk menentukan kedudukan setiap siswa dalam penguasaan materi pelajaran. Berdasarkan hasil evaluasi inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.

4) Model PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
  Model PSSI adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PSSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
PSSI terdiri dari 5 tahap, yakni:
a) Merumuskan tujaun, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
b) Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
c) Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
d) Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
e) Pelaksanaan program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes dan melakukan perbaikan.

C. Analisis Kebutuhan
1. Analisis kebutuhan
a. Konsep Kebutuhan Pembelajaran
  Menurut Abidin (2007:61) Kesenjangan adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan karena itu kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan merupakan solusi terbaik. Menurut M. Atwi Suparman dalam Abidin (2007 : 61) kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang berbeda tapi sama. Morrison dalam Abidin (2007:61), mengatakan bahwa kebutuhan (need) diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya, keinginan adalah harapan ke depan atau cita-cita yang terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah. Sedangkan analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan yang tepat. (Morrison dalam Abidin, 2007: 61).
Menurut Morrison dalam Abidin (2007: 61-62) membagi fungsi analisa kebutuhan sebagai berikut:
a) Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b) Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan.
c) Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan
d) Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan  analisa kebutuhan (Morrison dalam Abidin, 2007: 62)
a) Kebutuhan Normatif, Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, Ebtanas, UMPTN, dan sebagainya.
b) Kebutuhan Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
c) Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
d) Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e) Kebutuhan Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya
f) Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.

b. Melakukan Analisis Kebutuhan
   Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
a) Pengumpulan informasi
   Dalam merancang pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siswa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala apa yang akan dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam pemecahan suatu masalah.
b) Identifikasi kesenjangan
 Dalam identifikasi kesenjangan Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Duaa elemen pertama, yaituj input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses.
  Kategori kebutuhan seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh Kaufman seperti gambar di bawah ini:
1) Input
2) Proses
3) Produk
4) Output
5) Outcome
Komponen input, meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini misalnya tentang  keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar, kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses, meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi, perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku. Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi. Komponen Output, meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan. Outcome merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil, desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan kesenjangan antara harapan dan apa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah, desainer dapat mendeskripsikan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni input, proses, produk, dan output.
c) Analisis performance
 Tahap ketiga dalam proses need assessment, adalah tahap menganalisis performance. Menganalisis performance  dilakukan setelah desainer memahami berbagai informasi dan mengidentifikasi  kesenjangan yang ada. Ketika kita menemukan adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi kesenjangan mana yang dapat dipecahkan melalui perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan struktur organisasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan dan alat – alat. Untuk mennetukan semua itu kita perlu memahami faktor – faktor penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada saat need assessment berlangsung. 
Analisis performance meliputi:
1) Mengidentifikasi guru
2) Mengidentifikasi saran dan kelengkapan penunjang
3) Mengidentifikasi berbagai kebijakan sekolah
4) Mengidentifikasi iklim sosial dan iklim sosiologi
Disamping semua unsur tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya penerapan hukuman dan ganjaran, sistem intensif yang diberikan baik pada guru maupun siswa.
d) Identifikasi hambatan
   Tahap keempat dalam need assessment adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam pelaksanaan suatu program berbagai kendala  bias muncul sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi, waktu fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal, dan organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat atau pandangan yang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang dimilikinya. Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya  meliputi ketersediaan dan kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan beserta pengaturannya.
e) Identifikasi karakteristik siswa
  Tahap kelima dalam need assessment adalah mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need assessment. Identifikasi yang berkaitan dengan siswa di antaranya  adalah tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat social ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik siswa seperti di atas, akan bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran yang di anggap cocok, serta untuk menentukan teknik evaluasi yang relevan.
f) Identifikasi prioritas, tujuan
  Kaufman (1983) mendefinisikan need assessment sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumentasi dan menjustifikasi kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan. Definisi yang dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer perlu menetapkan kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggap mendesak untuk dipecahkan sesuai dengan kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need assessment. Terdapat beberapa teknik dalam menentukan skala prioritas dari data yang telah terkumpul. Misalnya teknik perangkingan meliputi Teknik Delphi, Fokus Group Discussion, Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik ini digunakan untuk menjaring berbagai tujuan yang dianggap perlu melalui penilaian para ahli yang terlibat pada diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan benar-benar hasil suatu studi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan.
g) Merumuskan masalah
  Tahap akhir dalam proses analisis masalah adalah menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang ditentukan. Pernyataan masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu-dua paragraf. Salah satu format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang dinamakan dengan RUPS (Research Utilizing Problem Solving). Tujuan RUP adalah merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS merupakan teknik yang dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab permasalahan yang harus dipecahkan. Membicarakan tentang analisis tujuan tidak bisa dipisahkan dengan inputyang terkait dengan masalah dan proses analisa kebutuhan. 
   Analisis kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu pendidikan. Menurut Anderson analisis kebutuhan , diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas.

D. Analisis Karakteristik Siswa
1. Pengertian Kareteristik siswa
  Sebelum kita melaksanakan kegiatan pembelajaran mulai dari pembuatan RPP,dan silabus, seorang guru harus memahami kareteristik yang dimilki siswanya. Menurut Anwar (2011:58) Kareteristik siswa didefinisikan sebagai ciri dari kualitas perseorangan siswa yang pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan, psikomotorik, kemampuan bekerja sama, keterampilan social.
  Menurut Alfin (___:192) nalisis karakteristik awal siswa merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk memperoleh pemahaman tentang; tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan kepentingan siswa, berkaitan dengan  suatu program pembelajaran tertentu. Tahapan ini dipandang begitu perlu mengingat  banyak pertimbangan seperti;  siswa, perkembangan sosial, budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepentingan program pendidikan/pembelajaran tertentu yang akan  diikuti siswa.

2. Kareteristik Siswa
Menurut Anwar (2011:59) ada dua karetristik awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni;
1) Latar belakang akdemik mencakup;
a) Jumlah siswa
  Guru perlu mengetajui berapa jumlah sisw yang akan diajarinya untuk menetahui apakah mengajar pada klas kecil dan atau jelas besar pemahaman guru dalam jumlah siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan metode, media, waktu yang dibutuhkan dan evaluasi. Untuk mengetahui jumlah siswa, maka guru dapat bekoordinasi pasa bagian akademik. 
b)  Latar belakang siswa
   Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar keluarga, tingkat ekenomi, hobi dan lain sebagainya.untuk mendapat data tentng latar belakang siswa dapat diperloleh melalui pengisian biodata siswa.
c) Indeks prestasi
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang akan disajikan:
  • Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
  • Bahkan siswa yang miliki tingkat prestasi yang homogeny dapat ditempatkan pada kelas yang sama
  • Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasaan dan keteladanan materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa
      d) Tingkat intelegensi
      Memahami tingkat intelegensi siswa juga dapat mengukur dan mempredeksi;
  • Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran
  • Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi
  • Memahami tingkat intelegensi siswa gutu dapat menyusun materi, metode, medi serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa.

e) Keterampilan membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan membaca, keterampilan membaca adalah menyangkut tentang kemapuan siswa dalam menyimpulkan secara cepat akurat tentang bacaan yang mereka baca.
f) Nilai ujian
Nilai ujian juga dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami kareteristik awal siswa. Untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan awal siswa terhadap mata pelajaran yang diampu oleh guru yang bersangkutan
g) Kebiasaan belajar/gaya belajar
Aspek lain perlu diperhatikan guru dalam mengajar adalah memahami gaya belajar atau yang di sebut dengan style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih  disukai siswa. Keanekaragaman gaya belajar siswa perlu diketahui guru pada awal belajar, sehingga guru memiliki dasa menetukan pendekatan dan media pembelajaran yang relevan.
h) Minat belajar tolak ukur dalam memahami kareteristik siswa. Guru perlu melakukan Wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum sekuruh penilain yang mencerminkan minat siswa dalam mata pelajaran yang akan disampaikan
i) Harapan/keiginan siswa
Harapan dan keinginan siswa terhadap mata pelajaran yang kanan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami kareteristik siswa. Dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa dalam menyampaikan pendapatnya tentang harapan mata pelajaran yang akan diberikan
j) Lapangan kerja/ cita-cita yang dinginkan
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian angket, sehingga berdasarkan informasi guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita—cita mereka inginkan

2) Faktor-faktor social yang meliputi hal-hal sebagai berikut;
a. Usia
Memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan-pedekatan yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakankan terhadap anak remaja atau usia dewasa
b. Kematangan
Kematangnan secara psikologi dapat menjadi pertimbangan guru dalam memilihi pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkatusia/kesiapan siswa. Kematangan intelektual terhadi pada anak usia 6/7 tahun anak sudah mulai berpikir secara logis, baik dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan fungsi intelektual anak akan menuju kematangan seiring dengan proses pembelajaran yang ia peroleh
c. Rentangan perhatian  (attention span)
Rentang perhatian siswa adalah jumlah normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran. Rentang perhatian siswa akan menetukan kualitasi informasi yang akan diperoleh siswa.
d. Bakat-bakat istimewa
Guru perlu memahami perbedaan bakat siswa agar dapat dikembangkan secara optima
e. Hubungan dengan sesama siswa
Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan hari iini, bahwa interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik lewat prosws belajar mengajar.
f. Keadaan sosial ekonomi
Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memahami kebutuhan sumber belajar sebagai akibat dari rendahnya ekonomi keluarga. Berkenaan dengan itu, dibutuhkan kreativitas guru dalam membuat/menentukan sumber belajar dan media yang terjangkau dan tersedia dilingkungan belajar siswa.

3. Karakteristik yang berkenaan dengan latar belakang perbedaan kepribadian seperti: sikap, perasaan, minat dan sebagainya.

Teknik analisis karakteristik  awal siswa
1. Dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang tersedia. Dokumen yang dimaksud misalnya nilai surat tanda tamat belajar (STTB), nilai rapot, nilaites intelegensi, dan nilai tes masuk. Catatan-catatan mengenai prestasi dalam berbagai bidang merupakan informasi yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan siswa.
2. Dengan menggunakan tes prasyarat dan tes awal. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan atau disyaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui atau keterampilan mengenai ajaran yang hendak diikuti.
3. Mengadakan konsultasi, individual. Dengan mengadakan konsultasi individual terhadap siswa, maka guru akan dapat mengadakan pendekatan secara personal untuk guru memperoleh informasi, misalnya mengenai minat, sikap, keinginan siswa, dan sebagainya.
4. Dengan menyampaikan angket atau questionneir. Angket bisa disusun kemudian disampaikan kepada siswa misalnya untuk mengetahui gaya belajar mereka. Gaya belajar ada bermacam-macam misalnya: dependent, independent, competitive, participant, dan lain sebagainya.